Trader vs Investor

Dalam memilih ‘profesi’ di dunia saham, kita dihadapkan kepada pilihan : Menjadi ‘Trader’ ataukah ‘Investor’. Masing-masing memiliki keuntungan dan kelemahan.

Trader umumnya berorientasi jangka pendek. Ia tidak terikat kepada salah satu saham pilihan. Cepat berganti musim memilih. Bisa jadi, ia pagi beli, sore jual. Atau, Senin mengamati, Selasa beli, Kamis menjual, Jumat mengamati lagi.

Kelemahan para trader adalah, ia harus sering memantau monitor komputernya. Lengah sedikit, hancurlah portofolionya. Oleh karena itu, para trader harus lebih disiplin dalam ‘cut loss’. Maka, para trader harus memperhitungkan biaya-biaya yang harus mereka keluarkan.

Secara umum para trader adalah ‘chartist’, alias ‘technical analyst’. Barangkali Robert E. Prechter adalah salah satu contohnya.

Sementara itu para investor adalah mereka yang berorientasi jangka panjang. Minimal satu tahun, para investor menanamkan investasinya. Mereka memilih saham berdasarkan analisis fundamental. Maka, mereka memakai rasio-rasio laporan keuangan untuk menentukan saham apa yang dipilih. Terminologi ‘earning per share (EPS)’, atau ‘return on equity (ROE) adalah contoh rasio yang harus dikuasai. Mereka umumnya adalah seorang ‘value investor’ seperti Warren Buffet.

Lalu, apa yang Anda pilih ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s