My Mistakes

Kesalahan-kesalahan yang saya buat sebagai trader adalah

1. Over trading

2. Tidak Tahu Saham Apa yang dibeli

3. Terlalu cepat menyimpulkan analisis

4. Menunggu Saham naik lagi, tetapi saham malah turun.

5. Tidak tahu target profit

6. Tidak disiplin.

7. Terlambat untuk segera ‘masuk’

8. Menggampangkan yang mestinya sulit dan menyulitkan yang gampang.

Chelsea dan Trading Saham

Dini hari tadi saya menonton pertandingan terakhir EPL antara Chelsea melawan Wigan Athletic. Hasilnya, 8-0 buat Chelsea. Saya cukup tenang menonton karena anak-anak sudah tidur. Ketenangan itu juga karena, sebagai fans The Blues, saya punya keyakinan mereka akan menang. Maka, saat menit ke-6 Anelka membobol gawang Wigan, jantung saya tidak terlalu berdebar.

Saya suka Chelsea sejak ditukangi Claudio Ranieri. Dan, sejak saat dipegang Jose Mourinho, saya tambah suka karena The Special One inilah yang akhirnya mengantarkan Chelsea menjadi juara EPL dan FA sekaligus. Sekarang ditangan dingin Carlo Ancelotti, Chelsea mudah-mudahan bisa stabil.

Hari ini, 10/5/2010, IHSG mulai menghijau lagi. Akankah ia akan naik ? Masih terlalu dini untuk menilai. Meski demikian, ini patut disyukuri. Dan kalau memang benar demikian sampai akhir pekan ini, maka kita bisa berharap kemarin adalah koreksi yang sehat sebelum IHSG menembus angka 3000, atau lebih.

Investasi di pasar saham ibarat sebuah kompetisi. Bisa tahunan untuk menang. Maka, meskipun naik-turun,  asalkan disiplin, kita akan mampu melewati bursa saham dengan selamat. Soal keuntungan, sangatlah variatif. Kalau saya, asalkan melebihi bunga deposito dan SUN, cukuplah.

Namun, karena volatilitas atau naik turunnya yang kencang, maka memperhitungkan penggunaan dana atau ‘money management’ adalah ilmu yang harus menyertai ketrampilan analisisi teknikal maupun fundamental.

Maka sama seperti Chelsea yang mengakhiri akhir musim dengan menang, saya pun ingin demikian.

Psikologi Trader

Menurut pengalaman saya, trader mengalami masalah-masalah berikut ini.

Kepala Pening, sensitif, uring-uringan, dan bahu terasa pegal.

Karena melotot pada monitor, bingung karena harga seperti roller coaster, atau posisi yang ‘nyangkut’, atau baru cut loss alias jual rugi, seperti yang saya lakukan kemarin.

Maka, yang saya lakukan adalah coolingdown. Keluar pasar dan pelan-pelan melihat situasi dengan jernih.

Warren Bufet pernah bilang, situasi sekarang berarti : Mister Market sedang datang. Maka sambutlah…. Inilah saat untuk masuk market lagi dengan perlahan tapi pasti.

Maka, pekan-pekan ini saya mulai melirik kembali saham yang fundamentalnya baik, tetapi sudah meluncur terlalu dalam. Misalnya ADRO dan KLBF.

Sementara saham-saham lainnya harus saya tunggu dengan lebih disiplin dan sabar. Karena, tanpa disiplin dan sabar, saya ikut terjerembab seperti pekan ini.

Cut Loss : Sedih tetapi Harus

Para trader pasti pernah merasakan cutloss. Sedih, karena apa yang telah diakumulasi, hilang dalam sekejap.

Namun  sisi lain cut loss adalah penyelamatan yang lebih besar. Dana selamat, dan masih punya nafas untuk melanjutkan perjuangan trading.

Tiga hari terakhir, 4-5 Mei 2010 IHSG melorot. Apapun alasannya, saya juga cutloss. Demi menyelamatkan akun dan keberlangsungan trading ke depan.

Happy Investing

Sebuah buku tentang saham saya baca terakhir adalah ‘Happy Investing’, karya Jhon Veter (JV).

Buku tersebut berisi pandangan dan cara investasi yang aman ala JV, investor yang aktif di J Club bersama Soeratman ‘Eyang’ Doerachman. Tidak dapat dipungkiri, buku yang enak dibaca tersebut menyadarkan kita bahwa investasi haruslah rasional. Jadi, meskipun pasar seringkali bertindak anomali dan ‘liar’ serta emosional, kita para investor haruslah tetap waras.

Maka, buku ‘Happy Investing’ lebih mengedepankan nalar sehat dalam berinvestasi. Alhasil, dengan pendekatan fundamental yang praktis, buku tersebut layak untuk dikoleksi, mendampingi para investor. Dengan ‘checklist’

JV menolak membagi kategori ‘investor-trader’. Karena toh ‘trader’ pun adalah investor pula. Ia juga tidak sepenuhnya setuju anggapan bahwa ia seorang fundamentalis sejati. Karena, bagaimanapun, untuk melihat ‘trend’, perlu analisis teknikal. Jadi, di buku tersebut, diulas sepintas tentang ‘trend’.

Hanya saja, sama seperti semua buku, ‘tools’ yang ditawarkan menyisakan pekerjaan rumah. Nah, disinilah ujian para investor. PR yang dituntut setelah membaca buku tersebut adalah memperoleh informasi seputar fundamental para emiten di BEI untuk kemudian diuji oleh ‘tools’ yang ada dalam buku tersebut. Maukah kita ?

Buy Point 19-23 April 2010

Berikut adalah ‘buy point’ untuk minggu ini, 19-23 April 2010.

Secara sederhana, tunggulah agar harga sampai di posisi tersebut. Bersabar adalah bagian dari disiplin.

AALI = 23850, 23100
ASII = 44300, 42.000
ELTY = 225, 200
BBCA = 5600, 5250
BDMN = 4986, 4707
BMRI = 5300, 5050
BBNI = 2225, 2125
BBRI = 8100, 7600
BLTA = 660, 630
BUDI = 225, 210
BUMI = 2325, 2175
CPIN = 2610, 2450
CTRA = 822, 760
CTRP = 330, 310
CTRS = 670, 625
CMNP = 890, 865
DEWA = 105, 100
DOID = 1010, 910
DILD = 1036, 940
KARK = 100, 90
EKAD = 130, 125
ELSA = 530, 460
ENRG = 150, 145
GZCO = 410, 370
GGRM = 26.550, 25400
HEXA = 4075, 3950
SMCB = 2180, 2040
INKP = 2225, 2100
INCO = 4825, 4600
ITMG = 37300, 35800
JSMR = 1920, 1850
KIJA = 105,
MPPA = 1180, 1090
MYOR = 4100, 3975
MEDC = 2890, 2750
PGAS = 3875, 3675
LSIP = 9725, 9350
RALS = 950, 890
SGRO = 2675, 2550
SMGR = 7900, 7600
PTBA = 17375, 16750
TLKM = 7900, 7600
TINS = 2575, 2450
UNVR = NO DATA
UNTR = 18300, 17525
WIKA = 390, 360

Trader vs Investor

Dalam memilih ‘profesi’ di dunia saham, kita dihadapkan kepada pilihan : Menjadi ‘Trader’ ataukah ‘Investor’. Masing-masing memiliki keuntungan dan kelemahan.

Trader umumnya berorientasi jangka pendek. Ia tidak terikat kepada salah satu saham pilihan. Cepat berganti musim memilih. Bisa jadi, ia pagi beli, sore jual. Atau, Senin mengamati, Selasa beli, Kamis menjual, Jumat mengamati lagi.

Kelemahan para trader adalah, ia harus sering memantau monitor komputernya. Lengah sedikit, hancurlah portofolionya. Oleh karena itu, para trader harus lebih disiplin dalam ‘cut loss’. Maka, para trader harus memperhitungkan biaya-biaya yang harus mereka keluarkan.

Secara umum para trader adalah ‘chartist’, alias ‘technical analyst’. Barangkali Robert E. Prechter adalah salah satu contohnya.

Sementara itu para investor adalah mereka yang berorientasi jangka panjang. Minimal satu tahun, para investor menanamkan investasinya. Mereka memilih saham berdasarkan analisis fundamental. Maka, mereka memakai rasio-rasio laporan keuangan untuk menentukan saham apa yang dipilih. Terminologi ‘earning per share (EPS)’, atau ‘return on equity (ROE) adalah contoh rasio yang harus dikuasai. Mereka umumnya adalah seorang ‘value investor’ seperti Warren Buffet.

Lalu, apa yang Anda pilih ?